watch sexy videos at nza-vids!

cerita sex dewasa

cerita seks daun muda | cerita mesum pemerkosaan
 | cerita sex artis | cerita seks setengah baya
| cerita pesta seks | cerita dewasa selingkuh

http://ceritaseru.net

Gambar XXX
Tags: cerita mesum pemerkosaan , karya harry potter

Dua Reporter yang Malang

Suasana di kantor bupati benar-benar tegang. Beberapa petugas berseragam safari hilir mudik dan berjaga di beberapa tempat. Wajah mereka yang kaku cukup untuk menggambarkan setegang apa situasi di tempat itu. Beberapa tamu yang lewat diarahkan kd tempat lain, seolah mencegah mereka untuk memasuki area tertentu. Meski begitu sayup-sayup masih terdengar suara teriakan-teriakan panas dari sebuah ruangan yang tertutup rapat, yang pintunya dijaga oleh dua sekuriti berwajah keras.
cerita mesum pemerkosaan dua reporter yang malang


Di dalam ruangan, beberapa orang berpakaian safari duduk berhadapan pada sebuah meja besar. Salah satu dari mereka, yang duduk ditempat paling ujung yang biasanya ditempati oleh pemimpin rapat, terlihat terengah-engah dengan wajah merah padam. Orang itu, pria paruh baya agak gemuk dengan rambut tipis beruban, menyeka wajahnya yang berminyak dengan sapu tangan, matanya yang melotot merah menunjukkan kalau dia sedang marah.

“Instruksi dari Bapak Bupati kan sudah jelas!” pria itu membentak sambil menggebrak meja. Orang yang ada di sebelahnya berjengit menjauh.

“Maaf Pak ajudan..” salah satu staf yang duduknya paling dekat mencoba menjawab. “Kita kecolongan, saya sendiri heran dari mana mereka bisa tahu.”

Pria yang disebut ajudan itu melotot ke arah staf tadi.

“Lalu buat apa kamu dibayar?” dia membentak lagi. Staf itu langsung mengkeret lagi.

“Saya tidak mau tahu! Instruksi Pak Bupati sudah jelas. Reporter itu harus dihentikan.”

Rapat hari itu bubar tanpa ada keputusan pasti. Si Ajudan terlihat sibuk menerima panggilan lewat ponselnya, dia berjalan mondar-mandir di ruangan itu sambil bergumam tidak jelas.

Semua itu berawal dari sebuah berita koran lokal yang menyebutkan bahwa Pak bupati telah melakukan korupsi dengan cara menggelapkan pendapatan asli daerah. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung, mencapai triliunan rupiah. Tidak mengherankan. Sebagai bupati di Kalimantan yang kaya akan sumber daya alam, tentu pendapatan daerahnya bisa mencapai puluhan triliun per tahun.

Celakanya, berita itu tercium oleh tim dari MetroTV yang memang sangat jeli dalam mendapatkan berita-berita semacam itu. Kalau berita itu tercium sampai ke pusat, maka bisa dipastikan hampir seluruh pejabat daerah tersebut bakal masuk penjara. Hal itulah yang sangat ditakuti oleh sang bupati. Sebagai penguasa daerah yang kaya-raya, bupati di sana ibarat raja, perintahnya sangat dijunjung tinggi. Mengusik bupati sama dengan cari mati.

***

Prita Laura memandang ke arah jendela untuk melepaskan ketegangan matanya. Perjalanan kali ini terasa sangat membosankan. Sudah berjam-jam lamanya dia duduk di mobil. Sopir penjemputnya bilang perjalanannya memakan waktu delapan jam, masih belum ditambah perjalanan lewat Sungai Kapuas yang juga tidak sebentar. Sebagai reporter, Prita sering melakukan perjalanan jauh, tapi belum pernah Prita mengalami perjalanan yang selama dan semembosankan ini.

Di sebelahnya, Frida Lidwina tampak sama bosannya dengan dia. Wajah Frida yang putih terlihat seperti tersaput kabut tebal. Earphone putih yang menempel di telinganya beberapa kali dimain-mainkan hanya sekedar untuk menyibukkan tangannya. Musik dari MP3 player yang digenggamnya sudah tidak sepenuhnya dia nikmati.

Frida menoleh ke arah Prita, pada saat bersamaan Prita juga menoleh ke arahnya. Keduanya saling berpandangan sambil nyengir.

“Kenapa? Bosen?” tanya Prita pendek.

“Iya nih. Gue bosen banget.” Frida menjawab sambil tersenyum. Giginya yang putih rata tampak kontras dengan bibirnya yang merah seksi.

“Tenang aja.” Prita melihat ke jam tangan Cartiernya. “Elo masih punya waktu tiga jam lagi buat bosen.”

“Konyol..” Frida tertawa lepas. Stres perjalanannya sedikit berkurang. Prita memang orangnya lucu. Meski pendiam, tapi spontan dan komentar-komentarnya kadang tak terduga.

“Padahal setelah ini masih harus lewat Sungai Kapuas kan?” tanya Frida.

“Yup.” jawab Prita pendek.

“Berapa lama?”

“Sekitar empat sampai lima jam katanya..” Prita menjawab ringan. Frida membelalakkan matanya yang indah dengan tatapan kaget.

Perjalanan terus berlanjut tanpa insiden berarti, kecuali jika guncangan keras saat mobil melindas batu, yang membuat Frida terlempar dari kursinya bisa dihitung sebagai insiden. Mereka akhirnya sampai di desa terakhir yang bisa dijangkau lewat darat. Desa itu berada tepat di tepi Sungai Kapuas yang lebar. Daerah yang mereka tuju terletak sekitar lima jam ke arah hilir menggunakan perahu motor.

Prita berdiri dengan bertolak pinggang, menatap ke arah sungai lebar yang ada di hadapannya. Agak ngeri juga Prita memandangnya, mengingat dirinya tidak pandai berenang. Bagaimana kalau tenggelam, pikirnya.

“Bengong aja.” tegur Mas Teguh, salah satu dari dua juru kamera yang mendampingi Prita dan Frida. “Bantuin angkat nih!” Mas Teguh menyodorkan tas besar berisi kaset VCR. Prita memonyongkan bibirnya mencibir lucu. Sementara Frida dan satu juru kamera yang lain terlihat berbicara dengan salah satu penduduk lokal.

Pria yang diajak bicara oleh Frida itu tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang pendek. Tingginya kurang dari sebahunya Frida. Meski begitu tubuhnya yang legam terlihat kekar, tato bermotif tribal menghiasi lengan kirinya yang berotot. Wajahnya keras, dihiasi kumis yang tumbuh jarang-jarang. Rambutnya agak panjang dan berantakan. Segores bekas luka memanjang di pipi kirinya membuat wajahnya seperti terbelah jadi dua.

Prita, yang melihat Frida memberi isyarat, segera mendatangi mereka.

“Ini pemandu kita.” kata Frida sambil menunjuk ke arah pria yang tadi diajaknya bicara.

“Herman.” pria itu menjabat tangan Prita yang lembut, cengkeramannya seperti ingin meremukkan jari tangam Prita yang halus.

“Prita Laura.” jawab Prita sambil meringis, kemudian memegangi tangannya sambil mengeluh kesakitan.

“Oh, maaf.” Herman berujar cepat, meski begitu ucapannya terdengar datar dan tidak tulus. Prita hanya mengangguk dan nyengir kecil.

“Berapa dia minta?” Prita berbisik pada Frida sambil menarik Frida menjauh.

“Empat.” jawab Frida pendek.

“Empat ratus?” Prita mengangkat alis. “Enggak kemahalan?”

“Siapa bilang empat ratus?” Frida menjawab dengan nada jengkel. “Empat juta.”

“Empat juta? Gila.!” Prita meninggikan suaranya. “No way! Nggak bisa!”

“Sayangnya cuma mereka yang ada.” kata Frida. Keduanya terdiam selama beberapa lama.

“Aneh..” Prita berujar datar.

“Aneh apanya?”

“Begitu banyak orang di desa ini, apa mungkin cuma dia pemandu di sini?” terang Prita.

“Gue nggak tahu.” Frida hanya mengangkat bahu.

Mereka menyusuri Kapuas dengan menggunakan perahu motor. Herman membawa tiga orang temannya sesama pemandu. Masing-masing memperkenalkan diri sebagai Gayong, Sam, dan Eddy. Gayong adalah seorang peranakan suku asli pedalaman. Badannya tegap dengan wajah mirip orang cina, tapi kulitnya hitam terbakar. Sam berbadan gempal dan berwajah seperti orang mengantuk, usianya diatas 40 an, kantong matanya menggelambir besar, pipinya gemuk tapi kendor. Sementara Eddy, tidak sesuai dengan namanya, wajahnya lebih mirip orang bego yang melongo terus menerus. Giginya ompong di beberapa tempat. Hobinya mengisap rokok kemenyan yang asapnya bisa membuat pusing siapapun yang menghirupnya.

Untungnya, perjalanan lewat sungai tidaklah semembosankan yang dibayangkan oleh Prita dan Frida. Sepanjang perjalanan yang mereka lihat adalah pepohonan hijau rindang di sisi kiri dan kanan sungai. Seringkali mereka melihat beberapa satwa seperti burung atau kawanan kera bergerak di sela-sela pepohonan. Sementara itu di bagian belakang kabin kapal terlihat Gayong, Sam dan Eddy sedang belajar mengoperasikan VCR portabel. Mas Teguh mengajari mereka.

“Sebenarnya nggak sulit.” kata Mas Teguh. “Ini switch ON OFF, ini casing tempat kaset ini zoom dan adjustment switch..” Teguh menunjuk beberapa bagian VCR. Ketiga pemandu itu mengangguk paham. Mereka kemudian mencoba mengambil beberapa snapshot, diantaranya menyorot Prita yang sedang bengong di dekat jendela.

Suasana yang sejuk ditambah angin yang bertiup leluasa membuat hawa kantuk menyebar dengan cepat. Herman dan ketiga temannya berkumpul agak terpisah sambil menikmati semacam minuman tradisional yang mereka bawa.

“Apa itu Pak Herman?” tanya Prita yang tertarik pada minuman berwarna kuning keruh yang dikemas dalam botol air mineral besar.

“Oh. Ini tuak manis.” Herman mengangkat gelas plastik di tangannya. “Dari campuran air nira dan tape. Tapi nggak bikin mabuk kalau sedikit.” Herman buru-buru menambahkan saat melihat ekspresi Prita.

“Non Prita mau?” tanya Herman yang tanpa menunggu jawaban dari Prita langsung menuangkan tuak manis itu ke dalam empat gelas plastik yang tersedia di dekat mereka. Lalu bersama-sama, Herman dan Prita membawa empat gelas tuak itu ke rombongan Prita.

“Apa ini Prit?” tanya Frida sambil mengamati isi gelas dengan tatapan bertanya-tanya.

“Minuman tradisional daerah sini katanya.” Prita menjawab. “Tuak.”

“Bikin mabuk dong.” sela Frida.

“Nggak, kalau minumnya cuma segelas dua gelas.” Herman mendahului. “kami sering minum ini. Saya jamin nggak bikin mabuk.”

Prita mengangkat bahu melihat ekspresi Frida dan teman-temannya. Di belakang, Gayong, Eddy dan Sam terdengar tertawa-tawa sambil bicara dalam bahasa daerah dengan pengucapan yang cepat.

Akhirnya setelah diyakinkan oleh Herman kalau minuman tradisional itu tidak memabukkan, Prita dan teman-temannya mencicipi minuman itu.

“Rasanya seperti air tape..” kata Frida sambil mencecap lidahnya.

“Agak kecut ya.?” Prita menambahkan. Beberapa detik kemudian tubuhnya mulai bereaksi. Minuman itu membuat perutnya menghangat, seolah ada yang menyalakan api di dalam perutnya. Dalam sekejap hawa hangat itu langsung menyebar ke seluruh tubuhnya, membuat Prita seolah merasa ringan sekali, seolah Prita merasa tubuhnya melayang beberapa senti di udara.

Selang beberapa menit, setelah menghabiskan satu gelas, reaksi tubuh Prita mulai berbeda. Tubuhnya terasa lemas dan mengantuk. Semula Prita mengira ini disebabkan oleh faktor perjalanan yang terlalu melelahkan, tapi tiba-tiba Prita tersadar kalau rasa kantuknya ini tidak ada hubungannya dengan perjalanan yang melelahkan ini.



***

Prita tersentak bangun dengan gelagapan saat seember air menyiram sekujur tubuhnya dari ujung rambut sampai pinggang. Prita menggelengkan kepalanya, mengibaskan air dari wajah dan rambutnya. Sesaat Prita merasa pengaruh minuman tradisional yang membuatnya tertidur masih menguasainya. Kepalanya masih terasa pusing dan berputar-putar selama beberapa detik. Baru, beberapa detik berikutnya, secara pelan-pelan Prita tersadar dengan keadaan dirinya sekarang. Prita mendapati dirinya terikat pada sebuah kursi kayu yang besar dan kokoh dengan posisi tangan di belakang punggung kursi. Tapi itu bukan bagian terburuknya. Bagian terburuknya adalah, saat itu Prita hanya tinggal mengenakan BH dan celana dalam saja! Posisi pahanyapun dibuat sedemikian rupa sehingga daerah kemaluannya terbuka lebar, membuat daerah kemaluannya membayang dengan jelas. Air yang menyiram tubuhnya membuat BH Dan celana dalamnya yang tipis menjadi semakin transparan sehingga puting payudaranya dan vaginanya membayang dengan samar. Kalau ada yang membuat Prita lebih kaget lagi adalah, saat dia tahu kalau Herman dan ketiga kawannya berdiri di hadapannya. Keempat orang itu tengah asyik menikmati keindahan tubuh putih mulus Prita yang setengah telanjang.

“Pak Herman..? Kenapa..” Prita dengan penuh kekagetan bertanya. Prita merasa sangat malu dan sekaligus marah diperlakukan seperti ini. Belum pernah sepanjang hidupnya Prita mengalami penghinaan sehina ini.

“Tenang saja di situ Prit.” Herman berkata dengan dengusan nafas liar. “Kami sedang melihat pemandangan indah.”

“Jangan Pak..” Prita mulai menangis ketakutan. “Jangan perkosa saya.” Prita mencoba meronta seolah dengan begitu dia bisa membebaskan diri dari tali yang membelit tangan dan kakinya. Tapi ketika tahu usahanya sia-sia, Prita menjadi panik.

“Tolong.!” Dalam keadaan panik, Prita berteriak. Anehnya Herman dan kawan-kawannya malah tertawa.

“Percuma teriak.” Herman berkata santai. “Di tengah hutan siapa yang mau menolong?”

Ucapan Herman itu seperti merontokkan keberanian Prita. Prita tersadar kalau dia bahkan tidak tahu di mana dia saat ini.

“Tapi.. kenapa..?” Prita dengan sisa keberaniannya bertanya dan menatap Herman dengan tatapan penuh kebencian, sekaligus ketidakberdayaan.

“Kenapa?” Herman tertawa. “Tidak kenapa kenapa.. kecuali hanya kalian terlalu ikut campur urusan bupati kami.”

“Kalian..?” Prita terkejut bukan main. Dia tidak menduga hal seperti ini bakal terjadi. Menjadi jelas sekarang kenapa tidak ada pemandu lain yang bisa mengantarkan mereka waktu di desa terakhir. Pasti itu adalah akal mereka juga.

“Kalian..” Prita tergagap.

“Tentu saja.” Herman menjawab. “Kalian tidak menyangka? Sayang sekali.. kukira kalian pintar.”

Prita menggelengkan kepala seolah tak percaya, sekaligus menyesali tindakannya yang kurang cermat.

“Tentu saja mudah bagi kami untuk membelokkan informasi buat kalian, koneksi bupati kami lebih hebat dari yang kalian tahu.” kata Herman sambil mendekati Prita.

“Tapi dari mana kalian mendapat informasi tentang rencana kami?” tanya Prita putus asa. Rasa takut yang mencengkeramnya membuat otaknya seperti buntu.

“Pintar juga kamu Prit..” Herman tersenyum sinis. “Sayang informasi itu termasuk rahasia.” katanya sambil membelai rambut gadis cantik itu. Prita melengos menolak sentuhan Herman.

“Dimana teman-teman saya?” Prita tiba-tiba teringat pada Frida dan yang lainnya.

“Tenang saja, mereka baik-baik saja untuk sementara ini.” Herman menyeringai jahat. “Bahkan khusus untuk Frida, kami ingin dia terus baik-baik saja, karena kami punya rencana tersendiri buatnya.”

“Tidak..! Jangan.!” Prita merasa, apapun rencana mereka pastilah sesuatu yang buruk. “Jangan lakukan apapun padanya. Bunuh saja saya!” Prita memberontak sekuat yang dia bisa, meskipun hal itu sia-sia karena tali yang mengikatnya terlalu kuat untuknya.

“Diam cerewet!” Herman menampar pipi Prita, tidak keras, tapi cukup untuk membuat bekas kemerahan di pipi Prita yang putih. Tamparan itu cukup efektif untuk menghentikan teriakan Prita. Prita menunduk, hanya suara isakan tangis yang terdengar dari bibir mungilnya.

“Cantik..” Herman mengangkat wajah Prita yang ketakutan. “Kamu tahu.. Pak Bupati memberi kami kebebasan untuk melakukan apapun pada kalian.”

Di luar dugaan, Herman menyentakkan wajah Prita sampai menengadah. Lalu dengan ganas, bibir Herman segera melumat bibir Prita, membuat gadis itu menyentak-nyentak jijik. Dia meronta-ronta mencoba melepaskan bibirnya dari lumatan bibir Herman. Tapi kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria kekar itu. Akhirnya Prita hanya bisa pasrah dan hanya bisa meneteskan air mata. Selama beberapa menit bibir Prita yang mungil itu terus menerus diciumi dan dilumat-lumat oleh Herman.

Prita langsung terbatuk-batuk saat Herman akhirnya melepaskan bibirnya. Prita meludah ke lantai, segala kejijikannya tumpah pada ludahnya. Dia merasa terhina dan sakit hati dilecehkan seperti itu, tapi Prita juga tak bisa berbuat apa-apa dengan keadaannya seperti itu.

“He he he..” Herman tertawa melecehkan. “Ternyata bibir reporter enak juga.” katanya sambil menyeka bibirnya sendiri. Dibelainya rambut Prita dengan lembut, Prita menarik kepalanya mundur, menolak sentuhan pria itu.

“Tunggu di situ sebentar ya Sayang, saya urus yang ini dulu.”

Herman lalu memberi isyarat pada ketiga temannya. Mereka bertiga meninggalkan ruangan, sesaat kemudian mereka kembali lagi, kali ini mereka membawa seseorang bersama mereka. Frida! Kedua tangan Frida terikat ke belakang dengan bibir tertutup lakban hitam. Matanya memerah sembab seperti habis menangis. Kaus ketat yang dikenakannya terlihat berantakan sepertinya kaus itu pernah dibuka paksa sebelumnya.

“Frida!” Prita menjerit kaget dan meronta sejadi-jadinya, sementara Frida, yang sama kagetnya melihat kondisi Prita, spontan memberontak. Sam dan Eddy cepat-cepat menarik lengan Frida lalu memaksa Frida berlutut. Frida terus meronta dengan air mata bercucuran, isak tangisnya tertahan oleh lakban yang menempel di bibirnya. Jengkel karena Frida yang terus meronta, Sam menampar wajahnya. Frida mengeluh pendek dan langsung terdiam. Frida hanya berlutut sambil tersedu.

“Jangan sakiti dia! Lepasin dia!” Prita memberontak dan berteriak kalap. Tangisnya makin menjadi-jadi. Herman menjadi jengkel, dia menjambak rambut Prita dan menyentakkannya kuat-kuat membuat wajah Prita mendongak. Prita meringis ketakutan, tapi dia langsung diam.

“Kalau kamu nggak mau diam, saya akan bunuh teman-teman kamu.” ancam Herman bengis, dia mencabut mandau yang memang sejak tadi dia bawa. Senjata khas Kalimantan itu terlihat berkilau mengerikan. Darah Prita seolah berhenti melihat sisi tajam senjata itu. Seketika wajahnya memucat ketika Herman menempelkan sisi tajam mandau itu ke lehernya. Rasa dingin besi tajam yang membelai leher putihnya membuat nyawa Prita seolah terbang sebagian. Prita gemetar ketakutan, dia menggigit bibirnya, menahan keinginannya untuk berteriak sekuat mungkin.

“Nah.. Begitu kan bagus..” Herman tersenyum liar. “Sekarang kita lihat yang ini ya..” Herman memberi kode pada temannya. Sam terlihat menenteng VCR portabel berlabel ‘MetroTV’ yang jelas-jelas diambil dari teman-teman Prita. Sementara itu Gayong dan Eddy melepaskan ikatan dan sumbatan mulut Frida. Frida langsung terbatuk sambil menyeka bibirnya yang merah. Masih dalam keadaan kalut, Gayong dan Eddy memaksa Frida berdiri. Dengan kaki gemetar Frida berdiri sambil terus menangis.

“Sudah! Diam!” Gayong membentak. “Hapus air mata kamu!”

Frida terdiam karena ketakutan. Dia segera menghapus air mata di wajahnya dengan punggung tangan.

“Sekarang baca ini!” perintah Gayong tegas. Dia menyodorkan selembar kertas pada Frida. “Baca di depan kamera.”

Frida langsung pucat pasi membaca tulisan yang ada di kertas yang dipegangnya.

“Nggak.. nggak mungkin..” Frida kembali menangis tersedu. “Saya nggak mau!” Frida menggeleng.

“Kalau kamu nggak mau..” Gayong menunjuk ke arah Gayong yang mandaunya masih menempel ketat di leher Prita. “Kamu lihat temanmu kan..?”

Gayong lalu membuat gerakan bengis mengiris lehernya sendiri dengan tangannya. Frida merasa keberaniannya yang tinggal seujung kuku langsung terbang saat itu juga. Frida benar-benar panik. Dia sungguh tidak berdaya menolak perintah Gayong. Dengan sangat terpaksa, Frida akhirnya menjawab.

“Jangan.. jangan sakiti teman saya..Saya akan lakukan, tapi jangan sakiti teman saya..” Frida berkata gemetar sambil menghapus air matanya.
 
Prita terperanjat mendengar itu.

“Jangan! Jangan Frid!” Prita menjerit dan memberontak di kursinya. Tapi Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita memaksa Prita diam.

“Jangan ribut!” Herman membentak. “Kamu tunggu giliran.”

“Jangan! Jangan sakiti dia!” Frida menggeleng ketakutan. “Tolong jangan sakiti dia.. saya akan lakukan.”

“Nah.. Kalat begitu tunggu apa lagi?” kata Gayong dengan tawa penuh kemenangan. Dia memberi kode pada Sam yang memegang kamera VCR. Sam segera berdiri dan menyalakan kamera VCR nya.

“Lihat ke sini dong Frida..” kata Sam sembari mengarahkan kameranya pada Frida. Frida berusaha keras untuk tidak menangis. Dia kemudian berdiri menghadap ke kamera. Frida memaksakan diri untuk tersenyum, memaksakan diri seolah-olah ini hanyalah reportase yang biasa dia lakukan. Untuk sesaat Frida hanya berdiri mematung di tempatnya. Baru setelah Sam memberi kode Frida mulai membaca tulisan di tangannya.

“Nama saya Frida Lidwina..” Frida memulai. “Saya menyatakan, apa yang saya lakukan berikut ini adalah keinginan saya sendiri tanpa paksaan dari siapapun.”

Frida berusaha membuat intonasi suaranya sewajar mungkin meskipun dirinya tidak rela melakukan hal tersebut. Sementara di seberang, Prita menangis terisak menyaksikan hal itu dan mengetahui bencana besar yang akan menimpa temannya. Prita memalingkan wajahnya dan memejamkan mata, tidak tega menyaksikan Frida mengalami penghinaan seperti itu, tapi Herman memaksa Prita menyaksikan adegan selanjutnya.

“Jangan sampai ketinggalan Prit.. Lihat baik-baik..” Herman menekan mandaunya lebih dalam ke leher Prita, membuat Prita terpaksa melihat bagaimana sahabatnya mengalami penghinaan.

“Nah.. sekarang..” Gayong yang bicara. “Kami mau melihat kamu telanjang. Jadi kamu sekarang harus buka baju.”

Frida dan Prita terkesiap mendengar hal itu. Ketakutan terbesar mereka selama ini akhirnya terbukti. Frida menggeleng sambil menggigit bibirnya, tapi melihat keadaan Prita yang berada dibawah ancaman mandau di lehernya, tanpa daya, nyaris telanjang, Frida merasa dirinya tak punya pilihan lain. Akhirnya dengan senyum yang teramat sangat terpaksa, Frida berucap. “Baik Tuan.”

Kemudian, dengan keengganan luar biasa, Frida mulai menarik kaus ketat yang dipakainya ke atas, melewati bahunya dan kemudian lepas dari tubuhnya. Seketika Herman dan kawan-kawannya terpana sambil meneguk ludah menyaksikan tubuh putih Frida bagian atas yang hanya tertutup BH putih tipis. Payudara Frida menonjol ketat di balik mangkuk BH berenda itu. Perutnya yang ramping terlihat rata dan mulus sekali.

“Ayo.. terus..” perintah Sam yang sibuk merekam detik demi detik Frida melucuti pakaiannya sendiri. Frida tidak tahan lagi, bendungan air mata yang menahan tangisnya akhirnya jebol. Dengan terisak, Frida membuka kancing celana jinsnya, kemudian melepaskan celana itu dari kakinya. Paha putih mulus dan jenjang seperti kaki belalang yang berakhir pada pinggul bulat terpampang begitu indah. Bagian selangkangan Frida yang terbalut celana dalam putih terlihat membukit, membentuk segitiga yang nyaris sempurna.

“Siapa yang menyuruh kamu berhenti?” bentak Gayong yang melihat Frida bergeming beberapa saat sambil mendekap payudaranya yang ketat. Frida menggeleng, air matanya mengalir kian deras.

“Jangan Tuan.. jangan telanjangi saya..” kata Frida di sela isakan tangisnya.

“Kalau nggak mau biar aku saja yang buka.” kata Gayong, lalu dengan gerakan gesit Gayong menyambar bagian depan BH Frida, lalu dengan sekali sentakan, BH itupun langsung robek dan terlepas dari tubuh Frida, membuat payudara Frida meloncat keluar dengan gerakan lembut. Frida menjerit pendek dan spontan mendekap dadanya yang kini telanjang. Tapi Gayong tidak berhenti sampai di situ. Dia juga merenggut celana dalam Frida dan menariknya sampai robek. Kain terakhir yang menutupi tubuh Frida terlepas sudah.

Frida dengan gugup mencoba menutupi daerah daerah rahasia tubuhnya dengan kedua tangannya meski itu tidak banyak berarti, sementara Herman dan ketiga temannya tertawa tawa sembari menatap tubuh Frida yang telanjang.

“Oi.. Sam, suruh dia singkirkan tangannya.. kalau tidak..” Herman mengancam dengan menekan mandaunya ke leher Prita. Prita memejamkan matanya, karena ketakutan dan tidak tega melihat Frida ditelanjangi.

“Kamu dengar itu kan Frid?” Sam memberi kode pada Frida untuk menyingkirkan tangannya dari payudara dan vaginanya. Frida terisak pelan, lalu dengan gerakan enggan, Frida melepaskan dekapan tangannya.

“Ohh..” Herman dan ketiga kawannya mendengus penuh nafsu sambil memelototi tubuh mulus Frida. Tubuh putih mulus reporter cantik itu sudah sepenuhnya telanjang bulat di hadapan mereka. Payudara Frida yang berukuran sedang namun ketat dan kenyal terlihat membusung indah, putih mulus dengan putingnya yang pink muda mencuat membangkitkan nafsu. Perut yang licin rata membentuk pinggang ramping yang berakhir pada pinggul yang besar dan membulat membentuk daerah selangkangan yang masih bagus. Daerah kemaluan Frida yang masih bagus itu dihiasi oleh rambut halus dan rapi, jelas menunjukkan sebagai tubuh yang terawat cermat.

Sam yang memegang kamera VCR tidak melewatkan sedetikpun kesempatan untuk menyorot keindahan tubuh telanjang Frida, baik secara close up maupun wide shoot. Bagian yang paling sering disorot tentu saja pada seputar daerah payudara dan vagina Frida. Sesekali Sam juga menyorot wajah Frida yang terlihat begitu memelaskan, tanpa daya dan pasrah.

“Bagaimana Frid?” Gayong tersenyum liar. “Kamu senang kan ditelanjangi?”

Frida menunduk, menolak menjawab pertanyaan itu, tapi dia sadar kalau posisinya tidak memberi kesempatan untuk menolak. Akhirnya Frida menjawab.

“I.. iya Tuan.. saya suka..”

Gayong dan teman-temannya tertawa penuh kemenangan.

“Kalau begitu kamu nggak keberatan kan kalau kami mencicipi kamu?”

Frida menggeleng.

Maka tanpa menunggu lebih lama, Gayong dan Eddy yang sudah terangsang melihat tubuh mulus Frida yang telanjang bulat, langsung mendekap tubuh putih mulus itu. Keduanya segera menyerang daerah-daerah sensitif di tubuh Frida. Gayong dengan gemas membenamkan bibirnya yang kasar ke bibir Frida yang mungil. Bagaikan mengulum permen karet, bibir Gayong beraksi melumat-lumat bibir presenter cantik itu dengan kekuatan seperti pagutan ular, membuat Frida megap-megap kehabisan nafas. Frida memejamkan matanya, menolak menatap Gayong, tapi bibirnya tidak mampu menahan serbuan bibir Gayong. Gayong terus mendesak bibir Gayong terus mendesak bibir mungil itu, bahkan pelan-pelan Gayong mulai mendorongkan lidahnya menerobos ke dalam mulut presenter itu. Frida yang pasrah merelakan lidah kotor itu menelusuri bagian dalam mulutnya dan membelit lidahnya.

Pada saat yang bersamaan, Eddy dengan kebrutalan yang nyaris tak berbeda tengah asyik menciumi dan menelusuri bagian leher dan bahu Frida yang bening dengan bibirnya dari belakang. Kecupan demi kecupan Eddy meninggalkan jejak kemerahan di leher dan pundak mulus Frida. Sementara tangan Eddy tidak membiarkan payudara lembut presenter cantik itu menganggur, tangan kasar Eddy mencengkeram payudara lembut Frida bagian kiri dan meremas payudara itu dengan kekuatan seperti seorang pegulat, membuat Frida menggeliat kesakitan merasakan payudaranya diremasi dengan begitu brutal.

“Ohh.. mhh.. ogh..” Frida mendesah tertahan ketika tangan kasar Eddy membelai-belai dan meremas-remas payudaranya. Desahan Frida tertahan oleh kecupan-kecupan brutal Gayong pada bibirnya. Mat tak mau, perlakuan kasar Gayong dan Eddy pada bagian sensitif tubuhnya membuat sensasi seksual dalam tubuh Frida perlahan-lahan meningkat. Desakan seksual itu, meskipun tak diinginkan oleh Frida, makin menggelegak saat Gayong dan Eddy mengarahkan serangannya pada kedua belah payudara Frida yang menggantung indah. Kecupan dan remasan secara bergantian mendarat di payudara putih kenyal itu. Sesekali sambil meremasi payudara mulus presenter cantik itu, Gayong dan Eddy juga menjilati dan menyentil-nyentil puting payudara Frida dengan lidah mereka yang kotor. Kadangkala keduanya juga melumat payudara Frida dan mengenyotnya kuat-kuat, membuat kedua pria itu terlihat seperti bayi besar yang sibuk menyusu pada ibunya.

“Gimana Prit? Bagus kan tontonannya?” tanya Herman pada Prita. Herman terlihat sekali sangat menikmati tontonan indah saat tubuh telanjang bulat Frida yang putih mulus itu dihimpit oleh dua pria kasar. Prita, dibawah ancaman, terpaksa menonton adegan mengerikan itu dengan air mata bercucuran. Tapi meski begitu diam-diam adegan panas itu membawa perubahan pada tubuh Prita. Tubuh Prita mulai panas dingin menyaksikan tubuh telanjang Frida digumuli begitu rupa, detak jantungnya mulai meningkat dan nafasnya menjadi tidak teratur. Disuguhi adegan sensual semacam itu mau tak mau membuat gairah seksual Prita bangkit.

“Gimana Prit..? Kamu suka kan dengan siaran langsung ini?” Herman mendengus tepat di telinga Prita. Meskipun Prita tidak menjawab, tapi Prita harus mengakui kalau dirinya mulai terangsang menyaksikan temannya ditelanjangi dan digeluti seperti itu. Dan Herman yang banyak pengalaman segera tahu saat melihat perubahan pada diri Prita.

“He.. he.. he.. pingin ya?” Herman tertawa. “Kalau gitu boleh deh..”

Herman lalu meletakkan mandaunya di lantai, lalu sambil tetap menonton Frida digarap oleh kedua temannya, Herman mulai menyerang leher dan pundak Prita dengan kecupan-kecupannya. Prita langsung bereaksi ganjil menerima kecupan itu.

“Ohh..” Prita mendesah saat bibir tebal Herman menyusuri leher dan pundaknya. Prita menggeliat geli saat Herman mulai menjilati daerah leher dan pundaknya dengan lidah. Antara jijik dan terangsang Prita kembali mendesah.

“Enak kan Prit?” kata Herman yang kian liar. Kali ini Herman tidak hanya menyerang daerah leher dan pundak Prita, tangannya yang kasarpun mulai bergerak menyusup ke balik BH tipis Prita. Prita langsung mendesah saat tangan liar itu meremasi payudaranya. Sentuhan pada payudaranya membuat Prita menyerah. Dia tidak tahan lagi untuk mendesah nikmat.

“Ohh.. oohh.. aahh.. ahh..” desahan penuh kenikmatan di tengah isakan tangis meluncur dari bibir mungil Prita tanpa bisa dicegah saat Herman meremas-remas payudara Prita. Apalagi saat jari-jari pria kasar itu mulai menyentuh dan memainkan puting payudaranya. Tiap sentuhan jari Herman pada daerah peka itu membuat Prita menggeliat menahan rangsangan yang kian menghebat. Gerakan tangan Herman pada sekitar wilayah dada Prita membuat BH yang dikenakan Prita melorot dari tempatnya sehingga payudara Prita yang putih kenyal langsung mencuat telanjang dan bergoyang seirama dengan gerakan remasan tangan Herman.

Tidak puas hanya dengan meremasi payudara Prita, Herman meneruskan serangannya pada daerah kemaluan Prita. Semula Herman hanya mengelus-elus bagian paling rahasia presenter cantik itu dari luar celana dalam tipis yang dipakainya. Tapi kemudian Herman mulai menyusupkan tangannya ke balik celana dalam wanita itu. Dielusnya permukaan vagina presenter itu, rambut-rambut halus terasa di ujung jarinya, lalu pelan-pelan jari Herman mulai membelah bibir vagina Prita dan mulai mengaduk-aduk bagian yang paling dijaga oleh wanita tersebut.

Prita menggeliat menahan sensasi seksualnya yang kian meledak. Desakan seksual yang kian menggebu itu membuat tubuh Prita seolah membengkak bagai balon gas yang ditekan ke segala arah.

“Ohkh… ohh.. ahh..” sekuat tenaga Prita menahan desakan birahinya yang kian menggila sampai wajahnya merah padam. Di depan mereka, keadaan Frida juga tidak kalah menyedihkan. Tubuh putih mulus Frida yang telanjang bulat dihimpit oleh dua sosok kasar dan berkulit legam. Fridapun mengalami rangsangan seksual yang tidak kalah gilanya, apalagi saat Gayong dan Eddy memaksanya untuk berdiri dengan kaki mengangkang lebar, kemudian secara bergantian kedua pria itu mengelus-elus daerah kemaluannya. Bagian tubuh yang paling rahasia itu diraba-raba dan diremasi secara bergilir, membuat Frida merinding, tubuhnya.menggeliat merasakan sensasi nikmat yang kian menjalari tubuhnya. Sesekali juga jari tangan Gayong dan Eddy menusuk-nusuk dan mengaduk-aduk liang vagina Frida mencari titik-titik paling sensitif pada daerah rahasia itu.

“Ahh.. oohh..” Frida mengerang tertahan saat Gayong berhasil menyentuh klitorisnya yang sangat peka rangsangan.

“He he he.. Enak kan Frid?” Gayong tertawa mengejek sambil terus mengaduk-aduk kemaluan Frida. Pelan-pelan vagina presenter itu mulai basah oleh cairan kewanitaannya. Hal itu menandakan kalau Frida sudah siap untuk disetubuhi.

“Uhh.. basah juga akhirnya.. Cewek dimana-mana sama saja.. Sok jual mahal padahal kepingin.” Gayong tertawa mengejek. Frida diam saja meskipun sebagai wanita terhormat dia merasa terhina luar biasa oleh ucapan itu. Kenikmatan yang diperolehnya sedikit banyak membuatnya tak melakukan perlawanan meski direndahkan sedemikian rupa. Frida merasakan sensasi yang diperolehnya dari kedua orang itu seolah membuat kesadarannya beku. Kenikmatan itu terasa sangat memabukkan, bahkan suaminya sendiripun tak mampu merangsangnya seperti yang dilakukan oleh Gayong dan Eddy. Hal itu membuat tubuhnya ingin memperoleh kenikmatan lebih banyak lagi meski pikiran sadarnya mengatakan kalau hal itu adalah salah.

Gayong dan Eddy, yang mengetahui kalau Frida sudah terangsang berat, menjadi makin ganas dalam merangsang presenter cantik itu. Kocokan demi kocokan melanda vagina Frida sementara payudaranya yang putih kenyalpun terus menerus diremas, dicubiti dan dikenyot-kenyot oleh kedua pria itu. Frida akhirnya tak tahan lagi, sensasi seksual di dalam tubuhnya terlalu kuat untuk dia tahan, maka meski sekuat tenaga Frida menahan sampai wajahnya merah padam, desakan seksual itu bagaikan cabikan cakar singa merobek pertahanan terakhirnya.

“OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!” Frida melolong keras, melepaskan orgasme yang sedari tadi ditahannya. Tubuh telanjangnya yang putih melengkung dan mengejang selama beberapa detik, dan seketika itu pula cairan vaginanya deras mengucur membasahi daerah selangkangannya. Sesaat tubuh putih mulus itu kaku seperti papan sebelum kemudian melemas dengan sendirinya dan terpuruk ke lantai.

Pada saat yang hampir bersamaan, Prita juga tengah berjuang menahan desakan birahi di tubuhnya. Tubuh Prita yang sedang terangsang hebat oleh perlakuan Herman itu menyentak-nyentak dan menggeliat-geliat. Herman tahu keadaan Prita, karena itu dia makin bersemangat mengobok-obok wilayah pribadi presenter itu. Prita makin tak bisa mengendalikan diri saat Herman berhasil menemukan daerah klitorisnya. Sentuhan pada daerah paling sensitif itu membuat pertahanan Prita runtuh, tubuh wanita cantik itu gemetar, nafasnya tersengal-sengal, erangan penuh nikmat meluncur tak tertahankan dari bibirnya yang menggemaskan. Desakan orgasmenya bagaikan air bah yang menggelora berusaha menjebol dinding pertahanannya. Tapi sensasi itu terlalu kuat untuk dibendung. Bagaimanapun kuatnya bertahan, pada akhirnya Pritapun menyerah.

“OHHGH.. AAHHKH.. AHH..!!” Prita mendesah keras saat orgasmenya meledak. Tubuhnya melengkung ke depan membuat payudaranya kian mencuat ke depan. Tubuh presenter berwajah imut itu menyentak-nyentak tertahan oleh tali yang mengikat tangan dan kakinya. Orgasme Prita meledak dengan hebat, seketika celana dalamnyapun basah oleh cairan vaginanya yang mengalir deras.

Prita terkulai lemas setelah sensasi seksualnya memudar. Dia menangis sesenggukan, perasaanya campur aduk antara marah, malu dan terhina, tapi sekaligus juga merasakan kenikmatan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kondisi itu membuat Prita tidak melawan saat Herman mengangkat wajah cantiknya dan melumat bibirnya yang mungil selama beberapa lama.

“Nah.. Bagaimana Sayang?” Herman membelai rambut Prita. “Enak kan..?”

Prita memalingkan wajahnya dan menunduk. Herman tertawa pelan.

“Nggak usah pura-pura.” Herman mengejek. “Sekarang kita lanjutkan tontonannya ya?”

Prita menggeleng dengan wajah ketakutan. Tapi Herman memberi isyarat untuk diam dengan tatapan matanya yang bengis.

Herman lalu memberi kode pada Gayong dan Eddy yang menunggu. Senyum liar mengembang dari wajah kedua pria kasar itu.

“Ohh.. yes..” Gayong berseru. “Sekarang siap-siap ya Frid..” kata Gayong datar. Dengan gerakan terburu-buru, Gayong melepas seluruh pakaiannya sampai bugil. Sontak penisnya yang legam dan berurat tegak mencuat seolah mengancam.

“Sekarang Frid..” Gayong menarik lengan Frida dan memaksa presenter berwajah manis itu berlutut di hadapannya. Posisi wajah Frida tepat berhadapan dengan penis Gayong, seolah penis itu adalah sebuah mikropon yang disodorkan kepadanya.

“Emut nih punya saya..!” kata Gayong datar, seperti menyuruh pembantu mengerjakan pekerjaan sederhana. Frida yang masih shock spontan melengos jijik. Kesadarannya menolak menolak melakukan hal yang baginya sangat menjijikkan itu. Suaminya sendiri sekalipun belum pernah memintanya melakukan hal semacam itu, apalagi yang memintanya sekarang adalah orang yang sama sekali tidak dia kehendaki.

“Ayo diemut!” perintah Gayong kasar saat melihat Frida diam saja.

“Jangan Pak.. saya nggak mau..” Frida menggeleng sampai air matanya bertetesan.

Gayong dengan jengkel menjambak rambut Frida dan menyentaknya keras, membuat Frida mengernyit dan merintih kesakitan.

“Mau membantah ya?” Gayong memutar wajah Frida sampai menghadap ke arah Prita. “Kamu lihat tuh temanmu.”

Frida menggeleng ketakutan, air matanya kian deras mengalir saat melihat keadaan Prita yang tidak kalah menyedihkannya. Terikat di kursi, setengah telanjang dan direndahkan sedemikian rupa. Masih sempat dilihat oleh Frida bagaimana Herman dengan gaya melecehkan meremasi payudara Prita yang telanjang. Frida merasa hidupnya sudah berakhir saat itu. Dia hanya bisa menggeleng dan menangis tersedu seolah tidak percaya pada apa yang terjadi padanya, seolah sedang berharap kalau kejadian mengerikan ini hanya mimpi buruk yang akan berlalu jika dia bangun. Tapi ketika menyadari ini bukan mimpi, Frida akhirnya hanya bisa pasrah.

“Ayo, jangan malu-malu.” kata Gayong sambil menyodorkan penisnya di depan wajah Frida. Frida menatap wajah Gayong dengan tatapan memohon, tapi Gayong terus memaksa Frida untuk mengulum penisnya. Akhirnya, dengan gemetar Frida melingkarkan jemari tangan kanannya yang lembut pada batang penis Gayong yang legam itu. Besarnya pas segenggaman.

“Ohh.. ohh.. ehh..” Gayong mengejang saat jari tangan lembut presenter cantik itu mencengkeram penisnya. Frida diam sesaat, telapak tangannya mulai berkeringat saat memegang penis yang menegang keras itu. Kemudian dengan pelan-pelan Frida mulai menggerakkan tangannya mengocok penis itu. Kocokan lembut itu segera membuat Gayong merintih-rintih dan mengejang merasakan kenikmatan kocokan lembut Frida. Frida memang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tapi nalurinya bekerja dengan baik untuk mengetahui apa yang harus dia lakukan. Maka saat Gayong menyuruhnya untuk mengulum penisnya, Frida melakukannya dengan patuh. Mula-mula Frida menjilati penis Gayong dengan lidahnya. Presenter cantik itu menelusuri setiap senti batang penis yang berurat itu dengan ujung lidahnya sambil tangannya terus mengocok penis itu dengan lembut.

Gayong mengerang-erang merasakan sensasi permainan lidah Frida. Apalagi saat Frida mulai mulai menjilati dan mengulum kepala penisnya yang hitam itu. Frida memperlakukan penis Gayong bagaikan permen lolipop. Dikulum-kulum dan dijilatinya penis itu dengan bibir dan lidahnya. Kadang Frida memasukkan batang penis Gayong ke dalam mulutnya yang mungil sambil disedot-sedot dan dikenyot dengan lembut sebelum kemudian dikeluarkannya lagi untuk dijilati. Rasa jijik sudah meninggalkan wanita cantik itu, akal sehatnya seolah membeku, saat ini yang bekerja dalam diri Frida hanyalah naluri seksualnya yang kembali menguasai tubuhnya.

Eddy yang sedari tadi bengong akhirnya mulai melucuti pakaiannya sendiri sampai bugil. Lalu diapun ikut menyodorkan penisnya yang tidak kalah besarnya ke wajah Frida. Frida yang tahu maksudnya segera melingkarkan jemari tangan kirinya pada batang penis Eddy. Maka sekarang Frida makin sibuk mengocok kedua batang penis sekaligus sambil secara bergantian mulutnya mengulum kedua batang penis itu secara bergantian.

Prita hanya bisa menangis menyaksikan adegan yang sangat merendahkan martabat wanita itu. Dia menolak menyaksikan bagaimana sahabatnya dihina dan direndahkan ke tingkat yang paling nista semacam itu, tapi Herman terus memaksanya menyaksikan hal tersebut.

“Bagaimana Prit? Asyik kan?” Herman bertanya dengan tawa yang menyebalkan. “Kamu mau digituin?”


Prita Laura
Prita terperanjat mendengar hal itu. Dia menatap Herman dengan pandangan menolak sambil menggeleng ketakutan. Tapi
Judul Dua Reporter yang Malang
Created at 2018-01-04
Rating 3 / 5
Back to posts
Name:

CERITA SEX
Komik Sex

kategori
pengarang
serial cerita dewasa

Share us on Facebook
Cerita Sex Dewasa XXX
© 2015 CeritaSeru.Net